Kamis, 03 Desember 2015

SURVEILANS


1.      Pengertian
Pengertian surveilans menurut WHO adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan (Depkes RI, 2004). Berdasarkan pengertian tersebut maka perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi, tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data.  

2.       Tujuan surveilans
Tujuan surveilans secara umum adalah untuk memperoleh informasi tentang penyakit atau masalah kesehatan lainnya yang meliputi frekuensi, distribusi, insidensi, frekuensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi, serta dapat dibaca secara cepat dan benar  sehingga mampu menjawab pertanyaan  siapa, dimana, kapan, sehingga akhirnya dapat dilakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan secara cepat dan terarah.
Adapun beberapa tujuan khusus dari surveilans adalah:
1.       Memantau kecenderungan penyakit
2.       Deteksi dan prediksi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB)
3.       Memantau kemajuan suatu program pemberantasan atau pengendalian
4.       Menyediakan informasi untuk perencanaan pembangunan dan pelayanan kesehatan
5.       Pembuatan policy dan kebijaksanaan pemberantasan penyakit

3.       Komponen kegiatan surveilans
Berdasarkan pengertian surveilans epidemiologi diatas maka komponen kegiatan surveilans epidemiologi memiliki komponen utama yaitu:
1)      Pengumpulan data
Kegiatan pengumpulan data merupakan komponen yang sangat penting karena kualitas informasi yang diperoleh sangat ditentukan oleh kualitas data yang dikumpulkan. Data yang dikumpulkan harus jelas, tepat dan ada hubungannya dengan penyakit yang bersangkutan. Pengumpulan data surveilans harus mendapat jaminan dapat dilakukan secara teratur dan terus menerus, baik dilakukan secara mingguan, bulanan ataupun secara tahunan.
Mekanisme pengumpulan data surveilans dapat dilakukan melalui surveilans pasif dengan menerima laporan atau  surveilans aktif. Surveilans aktif dilakukan dengan cara melakukan kunjungan petugas surveilans ke unit sumber data di puskesmas, rumah sakit, laboratorium serta langsung di masyarakat ataupun sumber data lainnya seperti pusat riset dan penelitian yang berkaitan. Pengumpulan data dari sumber data dapat diintegrasikan dengan surveilans dari penyakit lainnya agar mengurangi duplikasi data.
Persyaratan data surveilans yang baik adalah kelengkapan laporan yang diterima, kontinuitas laporan serta ketepatan waktu pengiriman oleh sumber data. Kelengkapan, ketepatan dan validitas laporan merupakan salah satu indikator penting dalam memelihara mutu data surveilans epidemiologi, dan nantinya sangat berpengaruh dalam melakukan interpretasi data tersebut secara akurat. Adapun pengertian dan maksud dari kelengkapan, ketepatan dan validitas laporan adalah sebagai berikut:
a)      Kelengkapan laporan
Kelengkapan laporan yaitu presensi laporan yang seharusnya diterima atau dikirim dibanding kenyataan laporan yang diterima dalam waktu tertentu.
b)      Ketepatan waktu
Ketepatan waktu laporan yang dimaksud adalah waktu laporan diterima dinas kesehatan kabupaten sesuai dengan waktu laporan yang telah disepakati atau diterapkan bersama
c)       Validitas laporan
Validitas laporan artinya data yang dimuat di dalam laporan tersebut data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenaran pengisiannya oleh petugas pada sumber data terutama di puskesmas dan rumah sakit.
Sumber data yang dikumpulkan berlainan untuk tiap jenis penyakit, sehingga masing-masing penyakit hanya memerlukan beberapa jenis data yang dikumpulkan. Adapun sumber data sistem surveilans yang dirancang oleh WHO terdiri dari 10 elemen yaitu:
-       Pencatatan kematian
-       Laporan penyakit
Laporan kematian merupakan elemen yang terpenting dalam surveilans, dan data yang diperlukan diantaranya nama penderita, umur, jenis kelamin, alamat, diagnosis dan tanggal mulai sakit jika diketahui
-       Laporan KLB atau wabah
-       Hasil pemeriksaan laboratorium
-       Penyelidikan kasus
-       Penyelidikan KLB atau wabah
-       Survei
-       Laporan penyelidikan vector
-       Pemakai obat dan vaksin
-       Keterangan penduduk atau kondisi lingkungan.
2)      Pengolahan, analisis dan interpretasi data
Langkah selanjutnya setelah data terkumpul adalah pengolahan data. analisis dan interpretasi data. Informasi data diperoleh melalui pengolahan data, dan selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel-tabel, grafik, “chart” dan mapping, yang menjelaskan kejadian tiap penyakit dihubungkan dengan waktu tempat dan orang.
Kriteria pengolahan data yang baik adalah:
a)      Tidak membuat kesalahan selama proses pengolahan data
b)      Dapat mengidentifikasi adanya perbedaan dalam frekuensi dan distribusi kasus
c)   Teknik pengolahan data yang dipakai tidak menimbulkan pengertian yang salah atau berbeda
d)      Metode yang dipakai sesuai dengan metode-metode yang lazim.
Adanya kemajuan teknologi komputerisasi harus dapat dimanfaatkan dalam proses pengolahan data, terutama untuk kemudahan menyajikan hasil pengolahan data berdasarkan variabel epidemiologi yang diinginkan, serta analisis dengan simulasi statistik.
Pelaksanaan analisis dan interpretasi data sangat tergantung tingkat unit pelayanan kesehatan serta ketrampilan petugas kesehatan khususnya petugas surveilans yang ada pada unit tersebut. Berdasar hasil analisis dan interpretasi data dapat dibuatkan rekomendasi atau saran-saran untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan oleh pihak yang berkepentingan dalam memecahkan masalah kesehatan yang ada.
Untuk melakukan analisis data sangat dibutuhkan kemampuan yang memadai dibidang epidemiologi, wawasan yang luas, dan berorientasi pada tujuan-tujuan surveilans epidemiologi itu dikembangkan. Analisis di bagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:
a)      Analisis sederhana
Analisis sederhana yaitu analisis data mentah menjadi tabel, grafik atau peta, dimana penyajian ketiga hasil analisa tersebut harus bersifat sederhana dan sebanyak-banyaknya hanya 3 variabel saja yaitu komunikatif, informatif, dan maksud yang diharapkan oleh penganalisa dapat dipahami oleh penerima hasil analisa.
b)      Analisis lanjut
Analisis lanjut yaitu analisis terhadap tabel, grafik dan peta sehingga menghasilkan telaahan mendalam terhadap suatu masalah yang dianalisis. Analisis ini mencurahkan semua keampauan penganalisis, termasuk kecerdasan, pengetahuan tentang penyakit dan faktor risiko, pengetahuan tentang kondisi populasi saat sekarang dan kemungkinan yang dihadapi dimasa yang akan datang, serta kecerdikan dan keuletan
3)      Umpan balik dan desiminasi informasi yang baik serta respon yang cepat.
Memberikan umpan balik kepada sumber-sumber data surveilans agar mudah memberikan kesadaran kepada sumber data tentang pentingnya proses pengumpulan data merupakan kunci dalam keberhasilan surveilans. Bentuk umpan balik biasanya ringkasan informasi atau korektif laporan yang dikumpulkan.
Desiminasi informasi yang baik harus dapat memberikan informasi yang mudah dimengerti dan dimanfaatkan dalam menentukan arah kebijakan kegiatan, upaya pengendalian serta evaluasi program yang dilakukan. Berbagai cara desiminasi informasi yang dapat dilakukan diantaranya dengan:
a)    Membuat suatu laporan hasil kajian yang disampaikan kepada atasan
b)    Membuat tulisan dimajalah rutin
c)    Membuat laporan kajian untuk seminar dan pertemuan
d)    Memanfaatkan media internet yang setiap saat dapat diakses dengan mudah.

4.       Kegunaan surveilans
Kegunaan surveilans diantaranya dapat untuk menentukan luasnya infeksi dan risiko penularan penyakit sehinga tindakan pencegahan dan penananggulangan dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Pada perkembangan selanjutnya surveilans harus digunakan dalam menajemen kesehatan untuk menanggulangi masalah kesehatan masyarakat secara luas. Beberapa kegunaan surveilans yang penting adalah:
1)      Mengamati kecenderungan dan memperkirakan besar masalah kesehatan
2)      Mendeteksi serta memprediksi adanya KLB
3)     Mengamati kemajuan suatu program pencegahan dan pembrantasan penyakit yang dilakukan
4)      Memperkirakan dampak program intervensi yang ada
5)      Mengevalusi program intervensi
6)      Mempermudah perencanaan program pemberantasan

5.       Karakteristik sistem surveilans yang baik
Karakteristik dasar dari sistem surveilans yang baik yang dapat diterapkan pada berbagai macam proses penyakit dan penyakit diantaranya:
1)      Kesederhanaan (Simplicity)
Kesederhanaan sistem surveilans mencakup kesederhanaan dalam hal struktur dan kemudahan pengoperasian sistem tersebut. Sebaiknya sistem surveilans dirancang sesederhana mungkin, tetapi masih mampu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kesederhanaan erat kaitannya dengan ketepatan waktu, sehingga akan mempengaruhi jumlah sumber daya atau sumber dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan sistem surveilans itu
2)      Fleksibilitas (Flexibility)
Sistem surveilans yang fleksibel dapat menyesuaikan diri dengan perubahan informasi yang dibutuhkan atau situasi pelaksanaan tanpa disertai peningkatan yang berarti akan kebutuhan biaya, tenaga dan waktu. Makin sederhana sistem surveilans, makin fleksibel untuk diterapkan pada penyakit atau masalah kesehatan lain serta komponen yang harus diubah akan lebih sedikit.
3)      Akseptibilitas (Acceptability)
Akseptibilitas dalam sistem surveilans menggambarkan kemauan seseorang atau organisasi untuk berpartisispasi dalam melaksanakan sistem tersebut. Akseptibilitas adalah suatu atribut dalam sistem surveilans yang sangat subyektif yang mencakup kemauan pribadi dari orang-orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan sistem surveilans untuk menyediakan data yang akurat, konsisten, lengkap dan tepat waktu.
Akseptibilitas merupakan masalah  bagi surveilans aktif dan pasif, terlebih untuk surveilans pasif, jika sistem surveilans tersebut tidak diterima oleh stakeholder kunci dan pengguna, maka data sistem cenderung tidak dapat memberikan gambaran yang terpercaya mengenai penyakit di dalam populasi.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi akseptibilitas dari suatu sistem surveilans adalah:
a)      Pentingnya suatu masalah kesehatan dilihat dari segi kesehatan masyarakat.
b)      Pengakuan dari sistem terhadap kontribusi individual.
c)       Tingkat responsif dari sistem terhadap saran-saran dan komentar
d)      Waktu yang diperlukan dibandingkan dengan waktu yang tersedia.
e)  Keterbatasan yang diakibatkan oleh adanya peraturan-peraturan baik tingkat pusat maupun daerah dalam hal pengumpulan data dan jaminan kerahasiaan data.
f)   Kewajiban untuk melaporkan suatu peristiwa kesehatan sesuai dengan peraturan di daerah maupun pusat
4)      Sensitivitas (Sensitivity)
Sensitivitas menggambarkan dari seluruh orang yang benar-benar sakit di dalam populasi dasar, dan berapa banyak diantaranya yang teridentifikasi oleh sistem surveilans tersebut. Sistem surveilans harus mendeteksi mayoritas kasus sehingga memiliki sensitivitas yang tinggi dan mendeteksinya dengan cara yang representatif.
Penekanan utama dalam menilai sensitivitas dengan asumsi kasus-kasus yang dilaporkan sebagian besar diklasifikasikan dengan benar adalah mengestimasi proporsi dari jumlah kasus di masyarakat yang dapat dideteksi oleh sistem surveilans.
Sensitivitas pada sistem surveilans dapat dilihat pada 2 tingkatan yaitu:
a)  Tingkatan pertama, yaitu pada tingkat pengumpulan data, proporsi kasus dari suatu penyakit atau masalah kesehatan yang dideteksi oleh sistem surveilans.
b)    Tingkatan kedua, yaitu sistem surveilans dapat dinilai kemampuannya untuk mendeteksi KLB.
Sensitivitas dari sistem surveilans dipengaruhi oleh:
a)  Orang-orang dengan penyakit atau masalah kesehatan tertentu yang mencari upaya kesehatan
b)   Penyakit-penyakit atau keadaan yang akan didiagnosa, dimana hal ini menggambarkan ketrampilan para petugas kesehatan dan sensitivitas dari tes diagnostik
c)       Kasus yang dilaporkan dalam sistem, untuk diagnosis tertentu
5)      Nilai prediktif positif (Predictive value positive)
Nilai prediktif positif (NPP) adalah proporsi dari populasi yang diidentifikasikan sebagai kasus oleh suatu sistem surveilans dan kenyataannya memang kasus. Nilai prediktif positif  bermanfaat dalam bidang kesehatan masyarakat, hal ini dapat dilihat pada 2 tingkatan yaitu:
a)      Tingkat kasus individual
Nilai prediktif positif mempengaruhi jumlah sumber daya atau sumber dana yang digunakan untuk melacak kasus. Pada sistem surveilans dengan NPP yang rendah akan menghasilkan pelaporan kasus positif palsu sehingga dampaknya akan menghamburkan sumber daya dan dana. Penghitungan NPP pada tingkat penemuan kasus ini dapat dilakukan apabila ada catatan mengenai jumlah pelacakan kasus yang telah dilakukan dan proporsi dari orang-orang yang benar mengalami suatu peristiwa kesehatan atau menderita penyakit yang diamati oleh sistem.
b)      Tingkat pendeteksian dari suatu KLB
Angka kesalahan pelaporan kasus yang cukup tinggi akan menyebabkan penyelidikan KLB yang tidak memadai, karena itu proporsi dari KLB yang berhasil diidentifikasikan oleh sistem surveilans dan benar-benar merupakan KLB sangat diperlukan untuk menilai NPP.
Nilai prediktif positif dari suatu masalah kesehatan erat kaitannya dengan kejelasan dan spesifitas dari definisi kasus. Komunikasi yang baik antara orang-orang yang melaporkan kasus dan instansi yang menerima laporan akan meningkatkan NPP.
Nilai prediktif positif menggambarkan sensitivitas dan spesifitas dari definisi kasus dan prevalensi dari suatu keadaan yang terjadi dalam masyarakat. Nilai prediktif positif akan meningkat seiring dengan meningkatnya spesifitas dan prevalensi.
6)       Kerepresentatifan (Representativeness)
Sistem surveilans yang representatif mampu menggambarkan secara akurat tentang kejadian dari suatu peristiwa kesehatan dalam periode waktu tertentu dan distribusi peristiwa tersebut dalam masyarakat menurut tempat dan orang.
Kerepresentatifan sistem surveilans dinilai dengan membandingkan karakteristik dari kejadian-kejadian yang dilaporkan dengan semua kejadian yang ada, dan jangan lupa bahwa kualitas data merupakan bagian yang penting dari kerepresentatifan. Walaupun informasi mengenai kejadian yang sebenarnya dalam masyarakat tidak diketahui, penentuan kerepresentatifan dari sistem surveilans masih mungkin dilakukan berdasarkan pada karakteristik populasi, riwayat dari peristiwa kesehatan, upaya kesehatan yang tersedia, dan sumber-sumber data.
Salah satu hasil yang penting dalam penilaian kerepresentatifan suatu sistem surveilans adalah ditemukannya subgroup dari suatu populasi yang secara sistematis tidak termasuk dalam pengamatan.
7)      Ketepatan waktu (Timelines)
Ketepatan waktu dalam sistem surveilans menggambarkan kecepatan atau kelambatan diantara langkah-langkah dalam suatu sistem surveilans yaitu pengumpulan data, pengolahan, analisis, interpretasi data serta penyebarluasan informasi. Setiap penyakit memiliki persyaratan tersendiri untuk ketepatan waktu pelaporan.
Periode pelaporan dan waktu untuk mengakses data surveilans yang lama mengindikasikan bahwa terdapat masalah dalam sistem surveilans tersebut. Agar dapat memberi perbaikan pada kesehatan masyarakat, harus tersedia data surveilans yang up to date. Ketepatan waktu mengacu pada seberapa cepat data dikelola dalam seluruh sistem surveilans, dan berapa banyak waktu yag di butuhkan di masing-masing langkah proses. Dengan adanya waktu yang lama antara terjadinya kasus dan ketika kasus dilaporkan hingga saat informasi digunakan, akan menghasilkan sistem yang kurang efektif. Untuk dapat mendukung meningkatnya ketepatan waktu dalam sistem surveilans teknologi komputer sangat dibutuhkan.

Rabu, 25 November 2015

The 5th National Scientific Conference on Epidemiology


National Scientific Conference on Epidemiology biasa disingkat NSCE merupakan konferensi ilmiah epidemiologi yang diadakan setiap tahunnya oleh Kementerian Kesehatan RI yang bekerja sama dengan WHO (World Health Organization) dan Field Epidemiology Training Program (FETP) Indonesia. NSCE menggabungkan sesi ilmiah dan symposium yang terkait dengan pengelolaan kesehatan masyarakat dan program FETP. Tahun 2015 merupakan acara NSCE yang kelima kalinya. Yang pertama diadakan di Yogyakarta tahun 2010, kedua di Bandung tahun 2012, ketiga diselenggarakan di Yogyakarta tahun 2013, keempat di Bandung tahun 2014, dan yang kelima di Bandung lagi tepatnya di Hotel Golden Flower pada hari Senin sampai Rabu tanggal 19 – 21 Oktober 2015.
The 5thNational Scientific Conference on Epidemiology dengan mengusung tema Social Determinants of Health (Equity, Gender, Working with Specific Populations and Intersectoral Action) ini diikuti oleh mahasiswa – mahasiswa FETP, tenaga ahli kesehatan masyarakat, dan alumni dari FETP Indonesia. Acara ini memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa FETP, dimana mahasiswa FETP diberi kesempatan untuk mempresentasikan karya ilmiah mereka di hadapan para ahli kesehatan masyarakat, dapat memperluas wawasan mengenai kesehatan masyarakat, dan membangun jejaring dan kerjasama dengan para praktisi kesehatan masyarakat. 
Pada hari Minggu, 18 Oktober 2015, diadakan preconference yang dibagi menjadi 2 kelas. Kelas pertama yaitu kelas risk assessment dan kelas kedua mengenai penyidikan KLB. Acara dimulai pukul 10.00 WIB dan selesai pukul 16.00 WIB. Senin, 19 Oktober 2015 pembukaan acara conference dimulai pukul 08.00 WIB kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel mengenai Riskesdas and Susenas Report about NCD, Social Determinants of Tobacco Control in Indonesia, dan Connecting Social Determinants of Health and Woman Abuse. Setalah diskusi panel, dilanjutkan dengan presentasi oral bagi mahasiswa yang lolos abstrak untuk presentasi oral. Sedangkan abstrak presentasi poster dan foto ditempelkan pada dinding – dinding di luar ruangan untuk bisa dibaca oleh peserta lainnya. Pada malam harinya diadakan welcome party dimana semua peserta berkumpul dan beberapa orang menampilkan pertunjukan yang sangat menghibur, seperti paduan suara, menari, menyanyi, dan ada juga yang beradu acting. Selasa, 20 Oktober 2015 acara dimulai dengan diskusi panel mengenai Lesson learnt of ECHO project, MERS CoV and Transmission Research Perspective, A Multi Center Clinical Research Network in Indonesia dan Risk Assessments by Surveillance Officer, kemudian acara dilanjutkan dengan presentasi oral yang dibagi beberapa kelas dan selesai pada hari itu juga untuk presentasi oralnya. Rabu, 21 Oktober 2015 merupakan hari terakhir dengan diisi diskusi panel yaitu mengenai Smallpox in Indonesia (Dr. Arbani Poerwokoesoemo Roos), Measles in Somalia (Dr. dr. Hariadi Wibisono, MPH), dan Ebola in West Africa (drg. Theodola Baning Rahayujati, M.Kes), dimana semua pemateri pernah turun langsung ke lapangan untuk ikut andil dalam kasus – kasus tersebut. Beliau - beliau membagikan pengalamannya yang luar biasa kepada peserta conference. Acara ditutup pada pukul 11.30 dengan pemberian reward bagi pemenang presentasi oral, poster, dan foto.

Minggu, 04 Oktober 2015

Welcome Oktober

Bismillah......

Oktober 2015, menyebut nama bulan ini sepertinya mulai membayangkan begitu padatnya jadwal yang harus diselesaikan dan mulai dilaksanakan.
Oktober 2015, mulai dari awal bulan, tengah bulan, hingga akhir bulan pun tidak berhenti agendanya. Awal bulan, deadline menanti dengan adanya seminar praproposal untuk menentukan pembimbing tesis, bimbingan proyek penelitian yang semoga fix untuk tesis, semoga tugas lapangan KLB juga dapat di awal bulan ini, laporan tugas lapangan analitik juga menanti, poster untuk APACPH dan persiapan NSCE juga harus selesai sebelum tanggal 10 Oktober Wikan.. HARUS !!!!!
Tengah bulan, deadline laporan perkembangan proyek penelitian sudah harus dikirim, semoga sudah bisa bimbingan lagi dengan Bu Yayi. Menyiapkan NSCE dan APACPH lagi.
Akhir bulan, InshaAlloh ada acara NSCE dan APACPH di Bandung, semoga bisa ikut, diberikan kesehatan selalu, dan lancar semua kegiatannya. Aamiin
Selain acara tersebut semoga bisa sudah bisa seminar proposal di Bulan ini ya Alloh. aamiin

WIKAN,,, YOU CAN DO IT. SEMANGAAAATT !!!!
RAJIIIIIIN!!!!!
Semua lakukan untuk Alloh, ibu, bapak, adek2, dan kamu yang kelak menjadi imamku dunia akhirat :)

Jumat, 28 Agustus 2015

Proyek Lapangan oh Proyek Lapangan

Proyek lapangan.....

Ntah kenapa baru kali ini pengen rasanya cerita tentang proyek lapanganku. Maklum kuliah menuntutku harus menyelesaikan 5 proyek lapangan sebelum maju seminar proposal tesis. Aku kuliah di magister epidemiologi lapangan dimana 70% pembelajaran di lapangan dan 30% in class. Kelima proyek lapangan terdiri dari
a. Analisis Masalah Kesehatan
b. Evaluasi Program
c. Evaluasi Surveilans
d. Penelitian Analitik
e. Kejadian Luar Biasa

Analisis Masalah Kesehatan dengan memprioritaskan masalah yang ada di lingkungan tersebut dan mencari saran untuk solusi mengatasi masalah utama kesehatan di sana.

Evaluasi Program dengan melihat input, proses, output, dan outcome dari suatu program kesehatan.

Evaluasi Surveilans dengan meihat input, atribut sistem surveilans (kesederhanaan, fleksibilitas, akseptabilitas, sensitivitas, nilai prediktif positif, kerepresentatifan, ketepatan waktu), dan komponen sistem surveilans (pengumpulan data, pengolahan dan penyajian data, analisis data, dan diseminasi data atau penyebarluasan data)

Untuk analitik, kita seperti melakukan penelitian dengan mengolah data dengan menggunakan analisis dengan software biasanya sih stata. Misalnya mengenai hubungan faktor risiko terhadap kejadian penyakit dimana kita harus wawancara satu per satu dengan penderita atau bisa juga dengan menggunaakan data sekunder.

Kejadian Luar Biasa, untuk proyek lapangan satu ini,, luar biasa bener mencarinya. Karena tidak semua tempat mendapat KLB. Hanya daerah - daerah tertentu saja dan kejadiannya begitu cepat.

Ada suka dukanya kuliah di peminatan ini. Ehhmmm banyak suka nya apa dukanyaa yaaa.. hehe
Yang penting dinikmatin prosesnya deh dan disyukuri hikmah dari segala peristiwa dalam menyelesaikan proyek lapangan. 

Proyek lapangan ini gak hanya belajar mengenai teori aja, tetapi belajar berkomunikasi, beradaptasi di lingkungan baru, bersopan santun, dan bersabar dalam menghadapi orang - orang sekitar atau partner proyek lapangan kita. Proyek lapangan juga melatih kita untuk cepat dalam mengambil keputusan di waktu yang singkat. 

Satu proyek lapangan sama seperti satu tesis. Jadi kami berasa membuat 6 tesis.. 
SEMANGAAAAT...!!!!
Semoga selalu diberikan keikhlasan, kelancaran, dan kemudahan dalam mengerjakan proyek - proyek lapangan dan selesai lebih cepat serta mendapatkan hasil yang optimal. Aamiin

POSBINDU

Posbindu?? Apa sih posbindu itu??

Posbindu adalah pos pembinaan terpadu untuk penyakit tidak menular. Posbindu PTM (Penyakit Tidak Menular) merupakan wujud peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini, pemantauan dan tindak lanjut dini faktor risiko PTM secara mandiri dan berkesinambungan. Kegiatan ini dikembangkan sebagai bentuk kewaspadaan dini terhadap PTM mengingat hampir semua faktor risiko PTM pada awalnya tidak memberikan gejala.
Kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor risiko PTM meliputi wawancara untuk perilaku merokok, kurang aktivitas fisik, kurang konsumsi sayur dan buah, konsumsi alkohol, kemudian pengukuran secara berkala tinggi badan dan berat badan, menghitung nlai Indeks Massa Tubuh (IMT), mengukur lingkar perut, tekanan darah, arus puncak ekspirasi (APE) dan pemeriksaaan gula darah sewaktu, kolesterol total, tligliserida,pemeriksaan klinis payudara / Clinical Breast Examination )CBE), lesi pra kanker leher rahim atau IVA positif melalui pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA), kadar alkohol dalam darah,serta tes amfetamin urin.
Jika pada saat awancara, pengukuran, pemeriksaan ditemukan faktor risiko PTM, maka dilakukan tindak lanjut dini berupa pembinaan secara terpadu melalui penyuluhan individu, kelompok atau konseling secara perseorangan sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya bagi yang memerlukan penanganan lebih lanjut dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).
Sasaran utama dalam posbindu adalah kelompok masyarakat sehat, berisiko dan penyandang PTM berusia 15 tahun ke atas. Penyelenggaraan kegiatan posbindu PTM dapat dilakukan di lingkungan tempat tinggal dalam wadah desa / kelurahan ataupun fasilitas publik lainnya seperti sekolah dan perguruan tinggi, tempat kerja, tempat ibadah, pasar, terminal, dsb.
Posbindu PTM diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu
a. Posbindu PTM Dasar
meliputi pemeriksaan deteksi dini yang dilakukan dengan wawancara terarah melalui penggunaan instrumen atau formulir untuk mengidentifikasi riwayat penykit tidak menular dalam keuarga dan yang telah diderita sebelumnya,pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, IMT, pemeriksaan tekanan darah, serta konseling
b. Posbindu PTM Utama
meliputi kegiatan posbindu PTM dasar ditambah dengan pemeriksaan gula darah, kolesterol total, trigliserida, pengukuran APE, konseling dan pemeriksaan IVA serta CBE, pemeriksaan kadar alkohol dalam darah dan tes amfetamin urin bagi pengemudi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih (Dokter, Bidan, perawat kesehata / tenaga ahli teknologi laboratorium medik / lainnya)

Sumber : Buku Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Tahun 2014

Minggu, 16 Agustus 2015

Curcol blog di siang bolong

Siang ini matahari begitu terik di Kota Semarang. Teriknya Semarang membuatku ingin bersantai sejenak sembari menulis apa yang mau ditulis. hehehe
Memang aku baru di dunia perblogan ini. Namun, rasanya ingin sekali terus memperbarui blog ntah itu desainnya atau isinya. Kadang terlintas kenapa gak dari dulu sih bikin blog? Penyesalan kadang muncul di akhir. Tapi okelah no problem. Aku berusaha memulai dari awal sedikit demi sedikit. Walaupun belum sebagus teman - temanku yang sudah sedari dulu turun di dunia perblogan ini.
Alhamdulillah aku diberi teman - teman yang sangat mendukung kemauanku untuk belajar, walaupun kita sudah jarang bertemu, namun semangat yang diberikan teman - teman begitu berkesan bagiku.
Harus lebih banyak belajar sama teman - teman yang sudah duluan bikin blog nih...
Dikit demi dikit, inshaAlloh lama - lama menjadi bukit :)
Keep istiqomah buka blog and nulis ^^

Minggu, 02 Agustus 2015

Mau Tubuh Ideal, Sehat, Cantik dan Bugar Setelah Puasa?



Bingung berat badan membengkak gara – gara makan gak di rem setelah puasa? Atau makin kurus setelah sebulan puasa? Nah, berikut ada beberapa tips agar berat badan menjadi ideal kembali.

Pertama, lakukanlah makan makanan yang sehat yaitu makanan dengan gizi seimbang. Apa itu gizi seimbang? Gizi seimbang adalah makan makanan yang mengandung zat – zat gizi dimana jenis dan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan tubuh. Tubuh memerlukan karbohidrat, protein, aneka vitamin, lemak hewani maupun nabati dan mineral – mineral lainnya yang dibutuhkan tubuh. Zat – zat gizi tersebut dapat kita konsumsi contohnya melalui nasi, sayur - sayuran, lauk pauk, maupun buah – buahan. Jangan lupa perbanyak minum air putih karena 60% tubuh kita terdiri dari air. Selain memerhatikan zat  zat gizi dalam makanan, kebersihan makanan dan alat – alat makan pun harus dijaga. Biasakan mencuci bahan makanan dengan air mengalir begitu juga tempat dan alat makan serta tangan kita sebaiknya dicuci dengan sabun dan air mengalir. Hal ini bisa mencegah kuman masuk ke dalam tubuh juga lho. Sehingga tubuh tidak menjadi sakit yang membuat badan menjadi kurus. So, makanlah makanan dengan porsi makanan yang cukup namun gizi tercukupi dan makanan harus bersih dengan teratur. 

Kedua, kurangi merokok, minum – minuman bersoda, dan makan makanan cepat saji. Berdasarkan beberapa penelitian, merokok berlebihan, minuman bersoda , dan makanan cepat saji dapat mempengaruhi kesehatan tubuh kita. Tubuh yang terlalu sering terpapar rokok, makanan cepat saji, dan minuman bersoda akan menimbulkan berbagai macam penyakit. Misalnya hipertensi, jantung, obesitas, dan penyakit lainnya. 

Ketiga, lakukan aktivitas fisik dengan rutin. Misalnya dengan lari pagi selama 30 menit saja sudah bisa menjaga kebugaran tubuh. Aktivitas fisik ini juga bisa menambah wajah dan pikiran menjadi ceria kembali lho. Atau dengan senam aerobik, yoga, dan olah raga lainnya yang menggunakan musik akan menjadikan pikiran fresh dan badanmu terlihat bugar.

Keempat, tenangkan pikiran dari berbagai masalah. Ada beberapa orang ketika dilanda masalah mengurung diri tidak mau makan sehingga badan menjadi kurus. Ada pula yang melarikan diri dengan banyak makan sehingga tubuh menjadi gemuk. Jadikan pikiran kita pikiran yang positif dan lakukan kegiatan – kegiatan yang positif untuk mengalihkan masalah yang sedang kita hadapi selagi menyelesaikan masalah tersebut. Masih ingat kan, Allah tidak membebani manusia di luar batas kemampuannya. So, be positif thingker

Kelima, lakukan pekerjaan atau tugas – tugas dengan teratur dan selesai tepat waktu. Mengerjakan pekerjaan atau tugas – tugas kuliah yang tepat waktu akan membuat hati merasa terpuaskan sehingga dapat mengurangi beban pikiran dalam otak kita. Sehingga kita bisa melakukan aktivitas – aktivitas lainnya dengan baik.

Selamat mencoba !!!!!

Blog Baru

Haii.... Silahkan beralih ke Blog saya yang kedua di http://nurvitawikansari.com Selamat membaca.. Terima Kasih :)